Potret Kehidupan Anak Jalanan di Yogyakarta

Bacaan 1a

Kegiatan 1—forum

  1. Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan menulis setidak-tidaknya satu atau dua kalimat. Sebelum Anda mengerjakan latihan ini, baca dulu “Stating your opinion”.
  2. Anak Jalanan
  3. Kita akan membaca sebuah teks yang berjudul: “Aku Anak Siapa?—Potret Kehidupan Anak Jalanan Yogyakarta.” Kira-kira informasi apa saja yang akan muncul dalam teks yang akan kita baca? Tulislah dan diskusikan prediksi Anda di dalam forum diskusi! Sesudah itu bacalah Bagian A.

Kegiatan 2—bacaan

Baca teks Anak Jalanan di Yogyakarta – Bagian A (420 kata) dan kerjakan latihan-latihan berikut.

AKU ANAK SIAPA? POTRET KEHIDUPAN ANAK JALANAN YOGYAKARTA (1)

  1. Menurut hasil laporan pemetaan dan survei yang dilakukan kantor departemen sosial Yogyakarta 1999, terdapat sekitar 1300 anak jalanan yang tersebar di sejumlah wilayah kantung. Definisi anak di sini adalah mereka yang berumur di bawah 18 tahun.
  2. Jenis pekerjaan yang dilakukan pun bervariasi, seperti pengamen, penyemir sepatu, pemulung, kernet, pencuci kaca mobil, pekerja seks, pengemis, dan sebagainya. Tetapi semuanya adalah pekerjaan informal dengan upah ala kadarnya, bergantung kepada si pemberi/pemakai jasa. Survei menunjukkan bahwa hampir 70% anak jalanan melakukan pekerjaan sebagai pengamen.
  3. Kehadiran anak jalanan tidak bisa dilepaskan dari keberadaan kota-kota besar. Anak jalanan merupakan fenomena kota besar di mana saja. Semakin cepat perkembangan sebuah kota semakin cepat pula peningkatan jumlah anak jalanan. Kehidupan di kota-kota besar yang tampak serba gemerlap dengan pernik-pernik kebebasannya ibarat sinar lampu yang mengundang anai-anai.
  4. Faktor Pendorong
  5. Banyaknya anak jalanan yang menempati fasilitas-fasilitas umum di kota-kota, bukan melulu disebabkan oleh faktor penarik dari kota itu sendiri. Sebaliknya ada pula faktor-faktor pendorong yang menyebabkan anak-anak memilih hidup di jalan. Kehidupan rumah tangga asal anak-anak tersebut merupakan salah satu faktor pendorong penting. Banyak anak jalanan berasal dari keluarga yang diwarnai dengan ketidakharmonisan, baik itu perceraian, percekcokan, hadirnya ayah atau ibu tiri, absennya orang tua baik karena meninggal dunia maupun tidak bisa menjalankan fungsinya. Hal ini kadang semakin diperparah oleh hadirnya kekerasan fisik atau emosional terhadap anak. Keadaan rumah tangga yang demikian sangat potensial untuk mendorong anak lari meninggalkan rumah. Faktor lain yang semakin menjadi alasan anak untuk lari adalah faktor ekonomi rumah tangga.
  6. Dengan adanya krisis ekonomi yang melanda Indonesia, semakin banyak keluarga miskin yang semakin terpinggir. Situasi itu memaksa setiap anggota keluarga untuk paling tidak bisa menghidupi diri sendiri. Dalam keadaan seperti ini, sangatlah mudah bagi anak untuk terjerumus ke jalan.
  7. Anak-Anak Yang Dipaksa Dewasa
  8. Kehidupan yang keras di jalan, ditambah situasi anak itu sendiri di mana mereka harus bertahan hidup, memaksa anak-anak ini menjadi dewasa sebelum waktunya. Apabila anak-anak sebaya mereka masih bermain-main dan dirawat oleh orang dewasa, maka anak-anak jalanan ini sudah harus menghidupi diri sendiri dan mempertahankan hidup.
  9. Soni, misalnya yang lari dari rumah sejak berusia 9 tahun karena kekerasan fisik oleh ayahnya, harus menghidupi diri sendiri dengan mengamen dan menyemir sepatu di sepanjang Jalan Malioboro, atau mengelap kaca mobil yang berhenti di persimpangan jalan. Ia pun masih harus menghadapi teman-teman yang lebih besar atau kadang kala preman-preman yang meminta uang darinya. Keadaan ini memaksanya menjadi seorang ‘anak dewasa’ yang keras, yang ditunjukkan dengan sikapnya yang selalu membantah. Namun di saat-saat tertentu, masih terlihat sifat anak-anaknya, karena memang sebenarnya ia masih anak.

Now answer the following 8 questions:

Kegiatan 3—latihan

LatihanL1L2L3L4L5L6
Kerjakan latihan-latihan berikut.

Kegiatan 4—forum

Answer the following four questions using complete sentences. If your class has a discussion forum, then answer all four questions in one single submission to the discussion forum. You also need to post a reply to at least one postings of one of your classmates.

  1. Sebutkanlah faktor-faktor yang mendorong seorang anak meninggalkan rumah untuk hidup di jalanan. Apakah faktor-faktor ini sama di Indonesia dan di negara Anda?
  2. Apa yang dimaksud dengan faktor penarik? Beri contoh. Diskusilah dalam forum apa saja yang bisa menjadi faktor yang menarik anak-anak sehingga ia mau tinggal di jalanan.
  3. Bagaimana anak-anak jalanan bisa menghidupi diri sendiri? Pekerjaan apa saja yang dilakukan oleh anak jalanan? Pekerjaan mana yang paling populer?
  4. Apa yang dimaksud dalam teks ini dengan istilah ‘anak dewasa’?
Stating your Opinion

When you state your opinion, you express what you believe or how you feel. Indonesians have a number of ways to convey what they think, believe, or feel. The most common are Saya kira… (I think that…) and Saya rasa<… (I feel / think that…).

In the past you probably have used Saya pikir… a lot. Please note that Saya pikir… is much less frequently used than Saya kira… and Saya rasa…. For the time being, please do not use Saya pikir….

Another way to state your opinion (if you are convinced about something) is by saying: Saya yakin (I am sure that…). Please note that you can NOT use Saya pasti…!

Menurut saya…; or Menurut pendapat saya… (in my opinion…) are more formal ways to state your opinion. The most formal is Menurut hemat saya….

You might also wish to use one of the following terms: Setahu saya… (as far as I know…), Saya percaya… (I believe…), Tampaknya… (it seems that…) and Kelihatannya… (it seems that…) or Kalau saya tidak salah… (if I am not mistaken…).

Also note that if you want to state a negative opinion, e.g. “I don’t think this is true”, you cannot add tidak before the verbs kira, rasa, or pikir. Instead, you say Saya kira ini tidak benar. The only word that you can negate with tidak is percaya: Saya tidak percaya… (I don’t believe…).

Some of the above phrases, i.e. saya kira, saya rasa, saya pikir, saya yakin, saya percaya, tampaknya, kelihatannya can be followed by a bahwa clause that is equivalent to the English ‘that’ clause:

  • Kami yakin bahwa dia akan datang.
    We are sure/convinced that she will come.

  • Mereka tidak percaya bahwa cerita itu benar.
    They don’t believe that the story is true.

  • Saya kira bahwa saya tidak akan menang.
    I don’t think that I will win.

Please note that the use of bahwa is entirely optional. Cf. Sneddon’s Grammar 3.108-3.111.

Kegiatan 5—kosa kata

Ulas dan hafalkan kosa kata di bawah ini.

[qdeck] [q]kantong[a]a bag
[q]wilayah kantung[a]an enclave
[q]pemetaan[a]mapping
[q]sekitar[a]about
[q]tersebar[a]to be scattered, spread
[q]wilayah[a]area, region
[q]berusia[a]to have the age of
[q]pengamén[a]street musician, busker, singing beggar
[q]pemulung[a]scavenger
[q]pengemis[a]beggar
[q]upah[a]wage
[q]ala kadarnya [a]rough-and-ready, to the degree necessary (i.e. simple)
[q]kehadiran[a]presence
[q]keberadaan[a]existence
[q]perkembangan [a]development
[q]tampak[a]to appear, seem
[q]serba-serbi[a]all kind of
[q]serba[a]completely
[q]melulu[a]exclusively; only; merely
[q]ibarat[a]like, as
[q]mewarnai[a]to color something
[q]ketidakharmonisan[a]disharmony, discordance
[q]perceraian[a]divorce
[q]percekcokan[a]quarrel
[q]anak tiri[a]stepchild
[q]memperparah[a]to worsen
[q]kekerasan[a]toughness, cruelty; ~ fisik, physical abuse
[q]melanda [a]to hit, overwhelm
[q]terjerumus[a]plunged into misery, sin, etc.
[q]memaksa[a]to force
[q]déwasa[a]adult
[q]lap[a]a rag, cloth to wipe something
[q]mengelap[a]to wipe with a rag
[q]persimpangan[a]crossroad, intersection
[q]préman[a]private, civilian, thugs, gangster
[q]merawat[a]to care for
[q]menghidupi[a]to support, provide for
[q]sikap[a]attitude, behaviour
[q]membantah[a]dispute, defy
[/qdeck]

Daftar Kata

Please note that all vocabulary items printed in bold may appear in exams.

peta, pem-an mapping
kitar, se- about
sebar, ter- to be scattered, spread
wilayah area, region
kantung bag, pocket (also: kantong)
wilayah kantung an enclave
usia, ber- to have the age of
amén, peng- street musician, busker, singing beggar
semir, peny- polisher
pulung, pem- scavenger
kernét bus conductor
kemis, peng- beggar
upah wage
ala kadarnya rough-and-ready, to the degree necessary (i.e. simple)
hadir, ke-an presence
ada, keber-an existence
kembang, per-an development
tampak to appear, seem
serba completely , ~serbi = macam-macam
gemerlap glittering
pernik-pernik also pernak-pernik , complexities; needless complications
ibarat like, as
anai-anai termites
melulu exclusively; only; merely
warna, me-i to color s.t.
harmonis, ketidak-an disharmony
cerai, per-an divorce
cekcok, per-an quarrel
tiri step-, ayah ~, stepfather
parah, memper- to worsen
keras, ke-an toughness, cruelty; ~ fisik, physical abuse
landa, me- to hit, overwhelm
jerumus, ter- plunged into misery, sin, etc.
paksa, mem- to force
déwasa adult
tahan, ber- to endure, survive
lap cloth to wipe sth
lap, menge- to wipe
simpang, per-an crossroad, intersection
préman private, civilian, (here) local criminals who control the area
rawat, me- to care for
hidup, meng-i to support, provide for
sikap, -nya someone’s behaviour, attitude
bantah, mem- dispute, defy
© 2015–2024 INDONESIAN ONLINE • Log in